Jumat, 13 September 2013
Kamis, 07 Maret 2013
Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun
Saya Mengenal Kematian Seperti Halnya Kelahiran, Ia Merupakan Bagian Dari Proses perjalanan Panjang Bernama Hidup, Yang membedakannya hanyalah Sebuah Garis Batas Yang Kita Sebut Alam. Namun reaksi emosi yang ditimbulkannya sunggulah berbeda. Bahagia mewakili setiap kelahiran dan sedih serta nelangsa merupakan emosi yang hadir untuk setiap kematian.
Minggu ini saya menerima dua kabar kematian, yang pertama dari seorang kawan dekat tentang kematian bayinya, yang meskipun saya tidak tahu persis sebabnya, tetap saja tak mampu mengusir sedih yang tiba-tiba mengusik, yang kedua dari keluarga besar saya di Palopo yang mengabarkan tentang kematian satu-satunya orang, yang hari ini saya panggil dengan sebutan 'nenek' karena pertalian darah. Ibu dari ibu saya,(kedua orang tua dari ayah saya telah lama meninggal begitupun ayah dari ibu saya).
Mengapa sedih berkepanjangan, tangis bahkan raungan merupakan reaksi yang hadir untuk setiap kematian? itu untuk kita!! kita lagi menangisi diri untuk setiap kenangan, salah serta semua hal indah yang pernah kita lalui bersama dengan mereka, kita tiba-tiba gugup untuk setiap alasan tergantung kadar kedekatan hubungan kita, karena tak ada lagi seseorang yang akan kau panggil dengan sebutan nenek (untuk hubungan nenek dan cucu), Teman berbagi sedih dan gembira (untuk sahabat), berbagi beban (untuk suami dan istri). Kita tiba-tiba merasa sendiri!! Namun hal itu wajar selama tidak berlarut sampai menyebabkan kita lupa pada hakekat perjalanan sesungguhnya.
Karena doa merupakan salah satu hal yang menjembatani alam "Antara" kita, maka doa sebaiknya merupakan bingkisan indah dari hati untuk setiap kenangan dan hal baik yang telah kita lalui bersama almarhum(ah), dan kematian menjadi sarana setiap kita untuk merefleksi perjalanan kemarin, agar bijak senantiasa menapaki langkah untuk esok.
(For Grandma, kami menangis untuk maaf yang tak sempat terucap, kelakuan yang tertanam buruk diingatanmu, kami mengenangmu untuk senyum indah dan sapa bijak setiap kali perjumpaan, kekhawatiranmu yang selalu ampuh mencegah kami melakukan hal buruk. Akhirnya shalawat dan alfatiha mengiringi ikhlas kami untuk perjalananmu 23/02/2013)
Minggu ini saya menerima dua kabar kematian, yang pertama dari seorang kawan dekat tentang kematian bayinya, yang meskipun saya tidak tahu persis sebabnya, tetap saja tak mampu mengusir sedih yang tiba-tiba mengusik, yang kedua dari keluarga besar saya di Palopo yang mengabarkan tentang kematian satu-satunya orang, yang hari ini saya panggil dengan sebutan 'nenek' karena pertalian darah. Ibu dari ibu saya,(kedua orang tua dari ayah saya telah lama meninggal begitupun ayah dari ibu saya).
Mengapa sedih berkepanjangan, tangis bahkan raungan merupakan reaksi yang hadir untuk setiap kematian? itu untuk kita!! kita lagi menangisi diri untuk setiap kenangan, salah serta semua hal indah yang pernah kita lalui bersama dengan mereka, kita tiba-tiba gugup untuk setiap alasan tergantung kadar kedekatan hubungan kita, karena tak ada lagi seseorang yang akan kau panggil dengan sebutan nenek (untuk hubungan nenek dan cucu), Teman berbagi sedih dan gembira (untuk sahabat), berbagi beban (untuk suami dan istri). Kita tiba-tiba merasa sendiri!! Namun hal itu wajar selama tidak berlarut sampai menyebabkan kita lupa pada hakekat perjalanan sesungguhnya.
Karena doa merupakan salah satu hal yang menjembatani alam "Antara" kita, maka doa sebaiknya merupakan bingkisan indah dari hati untuk setiap kenangan dan hal baik yang telah kita lalui bersama almarhum(ah), dan kematian menjadi sarana setiap kita untuk merefleksi perjalanan kemarin, agar bijak senantiasa menapaki langkah untuk esok.
(For Grandma, kami menangis untuk maaf yang tak sempat terucap, kelakuan yang tertanam buruk diingatanmu, kami mengenangmu untuk senyum indah dan sapa bijak setiap kali perjumpaan, kekhawatiranmu yang selalu ampuh mencegah kami melakukan hal buruk. Akhirnya shalawat dan alfatiha mengiringi ikhlas kami untuk perjalananmu 23/02/2013)
Senin, 28 Januari 2013
Selamat Yang Harus Terucap
Akhir Januari 2013...
Sudah sangat telat untuk mengucapkan "Selamat Tahun Baru", seperti kebanyakan orang yang mensakralkan beberapa moment tertentu. Tahun Baru bagi saya merupakan salah satu hal yang masuk dalam kategori "sakral" itu,, selain tidur siang tentunya :) karena berganti itu menandakan gerak, menandai niscayanya perubahan.
Di tahun-tahun lewat, saya menandai tahun baru dengan berbagai ritual, mulai dari evaluasi (mengecek kembali mimpi-mimpi yang belum tercentang ditahun yang lalu), menuliskan resolusi, dan satu hal yang saya percaya akan membantu untuk mewujudkan mimpiku ditahun akan datang, bersedekah!! tanpa maksud pamer ;)
Namun menandai tahun ini tak ada resolusi, hanya evaluasi, bahkan ucapan selamat tahun baru yang awalnya telah saya reka penuh rencana, harapan, yang akan saya tuliskan dengan mengharu biru di blog inipun tiba-tiba menjadi tidak penting lagi, semangat saya kehilangan ruhnya. kesibukan akhirnya menjadi kambing hitam, untuk ritual yang tertunda itu.
Namun ada satu hal yang tak ingin saya lewatkan. Dan meskipun tanggalnya tidak lagi tepat, bahkan telah melewati gegap gempitanya perayaan, saya tak ingin kehilangan kesempatan mengucapkan "Happy New Year" kepada kalian serta kesempatan merapal doa dan harapan baik, yang semoga terwujud di tahun ini.
Usah menghawatirkan usia yang terus merangkak serta kerut yang menyertainya,, bukankah itu cara hidup untuk meyampaikan bahwa kita bertumbuh, resolusi tak menjadi keharusan, biarkan mengalir seperti itu.. apa adanya,, begitu saja.. tetapi jangan berhenti mengucap syukur dan doa, karena itu bagian dari cara semesta mewujudkan mimpi kita.
Selamat Tahun Baru Diakhir Januarinya :)
Sudah sangat telat untuk mengucapkan "Selamat Tahun Baru", seperti kebanyakan orang yang mensakralkan beberapa moment tertentu. Tahun Baru bagi saya merupakan salah satu hal yang masuk dalam kategori "sakral" itu,, selain tidur siang tentunya :) karena berganti itu menandakan gerak, menandai niscayanya perubahan.
Di tahun-tahun lewat, saya menandai tahun baru dengan berbagai ritual, mulai dari evaluasi (mengecek kembali mimpi-mimpi yang belum tercentang ditahun yang lalu), menuliskan resolusi, dan satu hal yang saya percaya akan membantu untuk mewujudkan mimpiku ditahun akan datang, bersedekah!! tanpa maksud pamer ;)
Namun menandai tahun ini tak ada resolusi, hanya evaluasi, bahkan ucapan selamat tahun baru yang awalnya telah saya reka penuh rencana, harapan, yang akan saya tuliskan dengan mengharu biru di blog inipun tiba-tiba menjadi tidak penting lagi, semangat saya kehilangan ruhnya. kesibukan akhirnya menjadi kambing hitam, untuk ritual yang tertunda itu.
Namun ada satu hal yang tak ingin saya lewatkan. Dan meskipun tanggalnya tidak lagi tepat, bahkan telah melewati gegap gempitanya perayaan, saya tak ingin kehilangan kesempatan mengucapkan "Happy New Year" kepada kalian serta kesempatan merapal doa dan harapan baik, yang semoga terwujud di tahun ini.
Usah menghawatirkan usia yang terus merangkak serta kerut yang menyertainya,, bukankah itu cara hidup untuk meyampaikan bahwa kita bertumbuh, resolusi tak menjadi keharusan, biarkan mengalir seperti itu.. apa adanya,, begitu saja.. tetapi jangan berhenti mengucap syukur dan doa, karena itu bagian dari cara semesta mewujudkan mimpi kita.
Selamat Tahun Baru Diakhir Januarinya :)
Langganan:
Postingan (Atom)